Jumat, 05 Mei 2017

SAKURA


Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di https://indonesiana.tempo.co/read/111137/2017/05/05/vi2_163/sakura


Ia terlahir dengan rambut keriting, dan bermata bulat. Dalam tubuhnya mengalir darah Papua-Maluku. Kulitnya tidak hitam, tapi putih bersih. Orang tua biologisnya memberinya nama Sonny Laratmase.

Kehidupan Sonny lekat dengan keberagaman. Ia juga tumbuh di antara keluarga yang tidak hanya plural dalam suku dan agama, tapi juga kehidupan yang cukup kompleks, berliku, dan suram. Kini Sonny beribu tiri seorang perempuan Jawa. Hidup Sonny dinamis. Ia mudah beradabtasi dan menjalani perubahan dengan cepat.

“Buat saya tidak masalah, tinggal bersama dengan siapa saja. Laki-laki, perempuan, waria. Yaa, apalagi dari sesama Papua, dari luar wilayah juga tidak apa-apa. Saya sudah biasa”, katanya pada Juli 2016 ke saya melalui telepon, saat ia akan berpindah dari Sorong, Papua Barat ke Jakarta untuk tinggal selama empat bulan bersama orang-orang muda lainnya dari Tanah Papua.

Pada 2016, Sonny mendapat beasiswa pendidikan Hak Asasi Manusia dan riset pendokumentasian pelanggaran HAM dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Jakarta dan Peace Brigades International (PBI) selama tujuh bulan. Setelah pendidikan, ia melakukan riset di Sorong. Ia meneliti tentang pemenuhan hak atas akses obat bagi Orang Dengan HIV Aids atau ODHA, khususnya ODHA Waria di Sorong. Sebuah isu dan komunitas yang dekat dengan keseharaiannya. Kini risetnya sedang dalam penulisan laporan.

Berbeda dengan sebagian besar orang muda Papua lainnya, yang memilih berada di garis depan dalam perjuangan Papua merdeka atau isu sentral Papua lainnya, Sonny memilih bergerak untuk memerdekakan kelompok minoritas dalam minoritas itu: Waria dengan ODHA di Sorong. Suatu barisan pejuang dan perjuangan yang kesepian di Papua.

Tidak mudah menyuarakan hak-hak kelompok waria di Papua, Tanah yang menjadi wilayah berpusatnya agama Kristen dan agama-agama lokal masyarakat adat itu. 

Kalau di Jakarta, musuh terberat mungkin FPI ya, Kak?”, kata Sonny pada saya suatu kali di 2016. “Kalau di kita nie ada beberapa kelompok agama khususnya Katolik yang juga keras”, lanjutnya.

Kelompok yang dimaksud Sonny adalah mereka dari Kristen konservatif. Papua merupakan wilayah dengan mayoritas umat Kristen. Jejak sejarah Kristen dan peradabannya di Tanah ini masih dapat dilihat di pulau-pulau kecil di Papua. Misalnya di pulau Mansinam, dari sanalah Misionaris pertama bermula, dan kini Mansinam menjadi pulau situs penyebaran Injil. Melihat sejarah perkembangan Kristen di Papua, juga bisa lihat dari pulau Roon. Di pulau yang dihuni oleh suku Kuruwamesa ini, dijumpai kuburan guru-guru Pengabar Injil dan pendeta-pendeta pribumi. Kompleks-kompleks gereja juga tersebar di pulau ini.

Kristen konservatif menolak waria. Waria menyalahi kodrat manusia, Alkitab dan ajaran serta doktrin agama. Ini tidak hanya berlaku di Kristen, tapi juga agama-agama lain. Yulianus Retlobaut atau Mami Yuli, seorang waria dari Asmat -kini ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia- mengalami itu. Yulianus remaja seperti hidup dalam sangkar. Ia menjalani hari-hari remaja di asrama katolik. Pengelola sekolah dan asrama yang ia diami itu adalah para biarawati dan pastur dari Belanda. Mereka sangat konservatif. Yulianus yang pada usia 12 tahun sudah mengetahui orientasi seksualnya berbeda dengan kawan laki-laki seusianya yang lain, hanya bisa diam dalam kegelisahan diri.

Papua juga erat dengan maskulinitas. Baik dalam identitas maupun relasi gender. Sehingga eksistensi waria di Papua barangkali dipandang mencemarkan identitas Tanah mereka.

Orang tua Yulianus di Papua menghukum dia dengan menghentikan biaya kuliahnya di Jakarta, saat mereka tahu jati diri anaknya. Mereka sangat terpukul, marah, dan tidak mau menerima Yulianus lagi di Papua.

Pandangan Kristen konservatif itu tak ubahnya dengan pandangan kelompok Islam garis keras, Front Pembela Islam atau FPI misalnya. Bedanya, selain dengan ujaran-ujaran kebencian FPI juga lekat dengan budaya kekerasan dalam gerilyanya.

“Tapi saya sudah tahu juga bagaimana rasanya dikejar-kejar FPI. Saya pernah. Waktu ikut kontes Waria Berbudaya tahun 2012 di Banten, saya mewakili Sorong. Sedang melenggok di atas panggung...eeeh, lari semua dikejar FPI”, cerita Sonny dengan mimik serius diiringi tawa berderai.

Sonny remaja adalah Sonny, lakil-laki yang punya cerita cinta monyet, cinta pada pandangan pertama pada perempuan yang menarik hatinya, juga patah hati. Perjuangan hidupnya cukup keras.
                Sebenarnya masa kecil saya suram....”, katanya.

Sonny kecil jarang jumpa atau berkumpul dengan Bapanya. Bapanya berbulan-bulan berlayar di lautan lepas Papua. Ia bekerja pada sebuah perusahaan di kapal udang. Mama Sonny berperan ganda bagi anak-anaknya, menjadi Ibu sekaligus Bapa. Sonny yang sangat dekat dengan mamanya merasa terpanggil untuk meringankan bebannya. Lantas Sonny remaja membantu mamanya mencari uang dengan bekerja menjadi Pekerja Rumah Tangga. Pada 2003, mamanya meninggal. Sonny sangat terpukul dan kehilangan orang terdekatnya itu. Bapaknya menikah lagi. Kini selain memiliki lima saudara kandung, Sonny juga punya satu saudara tiri.

Pada 2003, Sonny mulai kuliah di Universitas Al-Amin, sebuah Yayasan Perguruan Tinggi Muslim di Sorong. Ia memilih Fakultas Hukum. Tapi di semester tiga ia memutuskan untuk berhenti dan keluar kampus. Sonny sempat menerapkan ilmu hukumnya dengan bekerja sebagai staf legal pada bagian hukum dan pertanahan di PT. Pertamina Kota Sorong. Hanya sebentar.

Sonny mulai gelisah. Jiwanya mengembara. Ia kerap berselisih dengan keluarganya. Ketika itu ia mulai sering berkunjung ke Salon Rudy, sebuah salon kecantikan di kota Sorong. Di sana ia menemukan kebebasan. Keluarga Sonny pada mulanya menolak perubahan-perubahan jati diri Sonny. Apalagi saat ia tahu orientasi seksual dia lebih dominan pada laki-laki.

Menjadi minoritas, atau memilih dan atau memiliki identitas yang berbeda dari yang mayoritas harus siap dengan penolakan. Penolakan biasanya datang dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Kadang, penolakan juga datang dari orang-orang yang jauh, yang tidak ada ikatan kekerabatan, yang telah lama hilang dan tidak berinteraksi, lalu tiba-tiba muncul untuk menolak dengan ceramah keagamannya yang panjang. Penuh nasehat dan anjuran “kembali ke jalan yang benar”, karena yang minoritas dianggap dan distigma sesat.

Sonny yang berhati lembut, peka terhadap situasi itu, juga pernah menuruti anjuran “kembali ke jalan yang benar”. Ia berpacaran serius dengan perempuan. Tak tanggung-tanggung, seorang pendeta yang usianya jauh lebih tua darinya. Namun, saat Sonny mengutarakan keinginan untuk menikahinya, Bapa Sonny dan keluarga justru menolak.

Keluar dari Pertamina, Sonny memulai usaha salon keliling. Apa yang ia lihat di salon Rudy menginspirasi dia. Modalnya  sekitar satu juta rupiah. Sudah termasuk untuk menyewa ojek setiap hari buat berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan jasa kecantikan. Lalu seorang pelanggannya berbaik hati menawari ia kredit motor. Bermodal keberanian dan keyakinan, Sonny mengkredit motor itu dari hasil salonnya. Usaha salon keliling yang ia jalani juga tak lepas dari hambatan, salah satunya tidak efektif, ribet. Di tahun ketiga, salon kelilingnya berhenti, berganti ke salon permanen di rumah orang tua Sonny. Kali ini ia bermodal tujuh juta. Seiring berjalannya salon itu, ia merekrut dua orang staf. Dua-duanya waria. Sonny sendiri yang mentoring mereka di permulaan mereka bekerja. Dari usahanya itu, Sonny membiayai kuliah dan sekolah dua orang adiknya.

“Puji Tuhan, saya punya klien ada terus. Sesekali juga diundang pejabat untuk merias”, katanya.

Di salon pula, Sonny merasa bebas berekspresi, berkreasi sesuai kata hati dan jiwanya. Ia bebas mengubah-ubah rambutnya. Kadang lurus panjang. Kadang keriting pendek. Kadang berwarna ungu, kadang kemerahan. Pada suatu waktu dan tempat, Sonny berdandan rapi dan tampan. Namun pada waktu dan tempat yang lain ia juga bisa tampil feminin, bersolek, dan cantik. Sonny berfikir sederhana, ia ingin bebas fleksibel menyesuaikan sekelilingnya. Dengan begitu ia dan komunitasnya akan lebih mudah diterima.

“Yang penting saya tidak merugikan orang lain toh? Sebenarnya saya mau dandan seperti apa juga itu urusan saya. Tapi saya berusaha fleksibel. Saya menjaga nama baik komunitas saya, biar mereka nie tidak direndahkan orang. Mereka nie juga sama-sama manusia juga toh?!”, katanya pada suatu kali di akhir 2016.

Sejak mendirikan salon itu, Sonny bergabung dengan Tiara Kusuma, sebuah organisasi lokal jejaring pengusaha salon di Kota Sorong. Ia menjadi anggota di bagian seni budaya Tiara Kusuma.

Pada 2010, Sonny dan seorang kawannya, Shinta, diundang ke Bogor Jawa Barat. Mereka mengikuti acara FKWI mewakili Papua Barat. Sepulang dari pertemuan Forum Komunikasi Waria Indonesia itu, Sonny dan Shinta mendirikan FKW Sorong, sebagai mandat dari hasil pertemuan di Bogor. Sonny mulai gencar menggerakan komunitasnya. Ia memulai perubahan dari dirinya sendiri, dari keluarganya sendiri. Sonny menjadikan keluarga sebagai tempat mulainya kaki melangkah. Keluarga baginya segalanya. Ia berbuat dari keluarga kembali untuk keluarga. Dengan sabar, dengan caranya sendiri, ia memberikan pemahaman tentang waria dengan ODHA. Ia menjelaskan secara detail tentang seluk beluk Aids kepada anggota keluarganya. Sonny menunjukkan semangat hidup yang tinggi, pola hidup yang baik dan sehat, serta tangan yang ringan dan selalu terbuka. 

Perlahan Sonny menularkan caranya itu kepada kawan-kawannya di komunitas. Kini, komunitas yang digerakkan Sonny berjumlah sekitar 100 orang lebih waria. Namun yang aktif hanya sekitar 56 orang. Yang tidak aktif adalah mereka yang masih “bersembunyi”, yaitu mereka yang masih distigma, ditolak, dan dipaksa mengingkari jati diri. 100 orang itu rata-rata berusia di bawah 35 tahunan. Kebanyakan dari mereka adalah Amber. Istilah atau sebutan bagi pendatang di Papua. Sebagian lainnya berdarah campuran, dan OAP (Orang Asli Papua). Jika di antara mereka beragama non Kristen, maka sempurnalah ia sebagai minoritas: Waria dengan ODHA, amber, dan non Kristen.
Pada 2014 dan 2016 FKW Sorong intens menyelenggarakan event seni dan budaya bagi waria. Seperti lomba Miss waria, puteri pantai waria, dan tarian sexy dancer. Namun mereka belum mendapat ruang untuk ekspresi seni budaya Papua.

Sonny sangat iri dengan keberadaan waria di Thailand. Di Thailand, waria dihargai masyarakat dan diakui negara. Mereka memiliki hak-hak asasi yang sama dengan warga negara berjenis kelamin lainnya. Mereka bebas berekspresi dan mendapat ruang penuh dalam berkesenian dan budaya, juga pekerjaan. Di Thailand terdapat sejarah adat, budaya, dan ajaran keyakinan yang mengakui waria sebagai gender. Selain perempuan dan pria, masyarakat Thailand mempercayai adanya gender waria, atau di sana disebut dengan sebutan “Kathoey”. Selain itu juga terdapat hermaprodith dan kasim.  Sementara pada masyarakat dan negara Indonesia, waria dianggap sebagai sebuah penyakit kelainan atau gangguan jiwa. Sebagai manusia mereka sub-ordinat. Apalagi waria dengan ODHA. 

Orang dengan HIV Aids, bukan orang jahat berbahaya yang harus dihindari. Sayangnya, kekerasan terhadap mereka hingga kini masih terjadi. Stigma buruk pada mereka masih saja ada; bahwa mereka orang yang hidup penuh dosa, bahwa berinteraksi dengan ODHA akan tertular, bahwa aids adalah kutukan, dan seterusnya. Stigma itu mendatangkan perlakuan diskriminasi terhadap mereka dalam banyak bidang. Di Sorong, Sonny menjumpai diskriminasi itu dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, masyarakat, hingga ruang-ruang dan pelayanan publik seperti rumah sakit. 

Waria dengan ODHA khususnya, masih sangat didiskriminasi dalam mendapatkan akses kesehatan, juga perolehan obat”, katanya.

Sonny menjumpai temuan sementara dalam risetnya, bahwa terdapat ketakutan-ketakutan luar biasa dari para waria dengan ODHA yang menjadi respondennya, terhadap stigma. Para responden itu juga melakukan berbagai upaya ekstrim untuk melindungi diri mereka dari stigma. Stigma menjadi sangat menakutkan bagi mereka ketika status ODHA mereka disiarkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dan petugas kesehatan. Misalnya seorang pemimpin gereja yang mengumumkan status ODHA seorang waria di depaan jemaat. Atau petugas kesehatan yang mengungkapkan status mereka ke masyarakat luas. Tapi dua hal itu nyatanya terjadi di sana. Stigma akan merembet pada perlakuan diskriminasi, termasuk diskriminasi dalam akses pelayanan obat.

Pada Maret 2017, Sonny terpilih menjadi staf paralegal di Koalisi Penanggulangan Aids (KPA) Sorong. Pendidikan HAM yang ia ikuti di ELSAM telah meyakinkan KPA untuk memilihnya. Tanggungjawab utama paralegal KPA adalah mendampingi dan memberikan pelayanan pada komunitas yang terdiskriminasi dalam mengakses layanan kesehatan.

Dari data KPA Sorong yang disampaikan Sonny, pada 2016 di Kota Sorong terdapat sekitar 1841 ODHA. Dan baru sekitar 441 ODHA yang mendapatkan layanan kesehatan rutin. Sisanya? Sulit akses, sebagian lainnya masih menutup diri lagi-lagi karena stigma. 

ADRA Indonesia di Sorong, sebuah organisasi nirlaba nasional yang melakukan riset indeks stigma dan diskriminasi pada 2016 hingga sekarang, menemukan temuan sementaranya bahwa stigma dan diskriminasi di Sorong banyak ditemukan dan dimulai dari internal, yaitu internal diri sendiri dan keluarga.

Hal itu dialami sendiri oleh Sonny. Sejak di bangku Sekolah Dasar Sonny sudah merasa jiwanya lebih dominan perempuan. Sejak SD itu pula ia mulai menerima kekerasan verbal dan fisik serta stigma.

“Perkataan kasar, dimaki, dilecehkan, saya pernah alami itu semua sejak SD. Lama-lama jadi terbiasa dengan perlakuan itu”, katanya

Salah satu kakak laki-laki Sonny sangat kesal, dan bereaksi keras terhadap perilaku Sonny. Di saat Sonny SMP, bahkan kakaknya sampai hati sering kasih pukul Sonny ketika mendapati dia bergaul dengan para waria.

Melalui wadah-wadah dan jejaring yang dimiliki Sonny, Sonny ingin mengikis stigma dan diskriminasi pada waria dengan ODHA khususnya di Sorong. Ia berharap perubahan itu dapat dimulai dari diri mereka sendiri, para waria dengan ODHA. 

“Mereka harus semangat. Mengubah diri, terpanggil untuk bergerak. Kalau untuk diri sendiri saja susah, ya bagaimana mereka mau berbuat untuk orang lain, untuk komunitas”, kata Sonny.

Menunggu perhatian dan kehadiran negara, rasanya seperti pungguk merindukan bulan. Hak-hak minoritas waria belum terjamin secara spesifik dalam perangkat hukum nasional yang menempatkan mereka kedalam kelompok rentan. Justru sejumlah peraturan nasional dan regional di Indonesia berpotensi menjadi alat pelanggaran terhadap mereka. Undang-undang Administrasi Kependudukan, UU Pornografi, UU Perkawinan adalah contoh regulasi diskriminatif terhadap waria. Kelahiran Prinsip-prinsip Yogyakarta atau The Yogyakarta Principles pada 2006 menjadi secercah harapan bagi kelompok ini. Klausul yang terdiri dari 15 prinsip HAM kelompok LGBT itu menempatkan International Covenant on Civil and Political Rights sebagai landasannya. Dan prinsip ini menjadi acuan bangsa-bangsa juga pelapor khusus PBB dalam membuat laporan situasi Hak Asasi LGBT.  

Sebagai pemeluk Protestan yang rajin ke gereja dan berkomunikasi dengan Tuhannya, Sonny berprinsip bagaimana ia bisa bermanfaat buat sebanyak-banyaknya orang. Pahit manisnya pengalaman hidup yang ia alami menjadikan dia sangat mencintai dan menghargai hidup dan kehidupan. Baginya, ia masih diberi hidup, berarti masih diberi kesempatan menjalankan misi kehidupan. Seperti bunga Sakura yang hanya tumbuh di Jepang dan berbunga di bulan April, meskipun di tempat dan waktu yang terbatas, tapi sekali ada ia berguna dan dirasakan keberadaannya oleh orang-orang di sekeliling, serta menginspirasi bagi yang jauh. Begitu juga Sonny, yang telah memilih nama warianya: SAKURA. Dan telah mengilhami nama salon kecantikan miliknya di Sorong: ZACKURA SALON.

 Foto: Doc.Diany


Selasa, 11 April 2017

Papua dalam Lensa Kamera




Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di  https://indonesiana.tempo.co/read/110279/2017/04/11/vi2_163/papua-dalam-lensa-kamera


 “.......Lagu nan sendu, dan syair yang menawan// Mengalun di sana menyayat hatiku// Dan nada yang sendu, puisi yang menawan, terjalin bersama oh nyanyian sunyi// Tanah yang permai yang kaya.......terhampar di sana....................surga yang terlantar...........”
  
                                                                                                                                                                        
Hati ini cukup tersentuh saat pertama kali mendengar syair yang dinyanyikan oleh grup musik Mambesak itu. Mendengar lagu itu, fikiran melambung jauh pada keelokan sekaligus ketidakadilan dan koyak-moyak kehidupan yang tak berprikemanusiaan di pulau di ujung timur sana: Papua. Grup musik rakyat Papua itu dengan menakjubkan telah menyuarakan Papua melalui lirik syair-syair yang indah dan menggetarkan.

Pesona keindahan alam yang dimiliki Papua membuat orang-orang menjulukinya sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Raja Ampat, Kaimana, Lembah Baliem, Pegunungan Jayawijaya, adalah beberapa tempat menawan yang cukup dikenal dunia. Meski masih banyak surga kecil tersembunyi lainnya yang kini dengan kecanggihan teknologi dapat dinikmati melalui dokumentasi-dokumentasi foto di dunia maya.

Adalah komunitas Papuans Photo, sebuah komunitas fotografi yang dibentuk pada 18 Oktober 2014. Komunitas ini punya tujuan utama untuk mengasah bakat fotografi orang-orang muda Papua dan mempromosikan Papua melalui foto.

Seorang pemuda Papua bersuku Mee bernama Whens Tebay, adalah penggagas terbentuknya komunitas itu. Ia tidak memiliki pendidikan khusus fotografi, namun kecintaannya pada fotografi telah mengasah tajam bakat yang ia punyai.

“Saya mulai jatuh cinta pada dunia fotografi pada tahun 2009, waktu masuk kuliah. Dan pertama kali saya pegang kamera baru pada tahun 2013. Itupun kamera HP, lalu tidak lama kemudian saya beli kamera pocket canon shybershoot”.

Pada 2014, Kementrian Kehutanan Provinsi Papua mengadakan lomba foto dengan tema Cagar Alam Cyclops. Cyclops adalah nama sebuah pegunungan yang menaungi Jayapura. Whens terpanggil untuk mengikuti kompetisi itu. Sekitar 20-an orang muda mengikuti lomba tersebut. Whens mengirim karya fotonya berupa potret teluk Youtefa, yang meliputi hutan mangroove, jembatan ringroad, dan kampung Tobati.

Pada 1996, Pemerintah Indonesia menetapkan teluk Youtefa sebagai kawasan konservasi dengan peruntukan lokasi taman wisata alam. Youtefa dengan luas 1.675 hektare adalah teluk kecil yang berada di dalam teluk Yos Sudarso. Konon, kampung Tobati merupakan kampung tertua di teluk Youtefa. Hanya ada tiga kampung di sana: Tobati, Enggros, dan Nafri. Teluk Youtefa menjadi salah satu tempat penting dalam sejarah peradaban Orang Asli Papua. Baik dalam perkembangan sistem budaya, agama, adat, alam, maupun geografis, dan lainnya. Sayangnya, Youtefa kini relatif tak seindah dulu. Kesadaran masyarakat khususnya pengunjung untuk menjaga kebersihan masih rendah. Begitu juga dengan pihak pemerintah, belum ada upaya masif melakukan langkah strategis dan sinergis untuk menjaga keasrian dan kebersihan kawasan konservasi ini. Termasuk merawat budaya dan sejarah yang ada di dalamnya. Situasi itu sudah bermula lama. Pada 2015 JERAT Papua, sebuah jaringan kerja Hak Asasi Manusia di Jayapura menuliskan bahwa sampah berserakan di kawasan ini hingga menimbulkan bau busuk.

Banyak pihak berpotensi mencoreng kecantikan Bumi Cinderawasih. Pada 4 Maret 2017, sebuah kapal pesiar berbendera Bahama menabrak terumbu karang seluas 1.600 meter di perairan Raja Ampat Papua Barat justru di saat air surut. Peristiwa itu menuai beragam kecaman dari banyak pihak, sekaligus tuntutan perketat penjagaan wilayah perairan serta penyelesaian hukum  terhadap insiden itu. Melihat bagaimana keseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di lintas sektor, barangkali dapat dilihat dengan bagaimana pemerintah menjaga dan merawat hutan dan perairannya. Ibarat rumah, keduanya seperti halaman depan dan kebun belakang rumah. Melalui peraturan yang dituangkan dalam undang-undang kepariwisataan, yaitu UU No 10 Tahun 2009, sebenarnya pemerintah sudah menjabarkan kewajibannya dan kewajiban pihak pengelola pariwisata dalam mengelola tempat pariwisata. Bagaimana mereka harus memahami pengelolaan tempat wisata tersebut tidak hanya sebagai sebuah sumber ekonomi, tetapi sebagai tempat wisata yang berkualitas bahkan dengan memasukkan prinsip-prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia. Itu berlaku untuk semua jenis pariwisata, termasuk perairan laut, dan teluk.

Foto Whens tentang teluk Youtefa, kampung Tobati, dan jembatan ringroad memenangi juara III. Kompetisi dan prestasi itu telah menginspirasi dia bahwa orang-orang muda Papua juga punya kemampuan, bakat, dan ketrampilan yang bagus dalam dunia fotografi. Jika tidak diberdayakan, akan sia-sia.

Whens yang lahir dan besar di Wamena, menyadari betul, Tanah Kehidupannya memiliki kekuatan karakter alam, aura, dan inner beauty. Ia ingin Orang Asli Papua khususnya orang-orang mudanya mengenali bumi Papua, dengan menjelajah dan mendokumentasikan apa yang mereka lihat dan jumpai melalui kamera.

“Orang muda Papua tidak boleh ketinggalan dengan pemuda luar. Harus punya ketrampilan, juga bisa menggunakan teknologi”, kata Whens.

Whens mengutarakan gagasannya membentuk komunitas fotografi pada kawan-kawannya di kampus. Awalnya hanya lima orang mahasiswa yang menjadi kawan berbagi idenya itu, yang kemudian lima-limanya menjadi anggota Papuans Photo. Mereka rapat, berdiskusi bagaimana membentuk dan mengkonsep komunitas ini. Rapat kerap dilakukan di warung-warung tepi jalan sepanjang Abepura-Waena. Kadang juga hanya diskusi melalui jejaring sosial.

Papuans Photo punya kegiatan utama hunting foto bersama. Peserta hunting lintas latar belakang, tidak hanya anggota komunitas saja. Tapi juga masyarakat umum, pegawai negeri, pelajar, dan mahasiswa. Whens turun tangan sendiri dalam kegiatan hunting ini.

“Setelah menyepakati tempat dan waktu, saya mentoring sendiri peserta. Tapi hanya di awal dan di akhir. Tapi saat proses, anggota komunitas juga mentoring peserta hunting itu”

Papuans Photo punya galeri online facebook @papuansphoto. Whens mencatat, kini pengikutinya di dunia maya itu mencapai 21.764 orang, dan tiap hari terus bertambah. Semua orang boleh bergabung dalam komunitas dunia maya ini, tidak hanya Orang Asli Papua saja. Namun, foto yang diunggah dalam komunitas ini diseleksi oleh tim admin, yaitu hanya foto yang berobjek di Tanah Papua.

Komunitas yang kini beranggotakan 25 orang muda (anggota aktif) itu juga masih punya rencana-rencana aktivitas lain selain rutinitas hunting. Tapi masih terkendala dana dan minimnya perlengkapan fotografi. Selama ini ia mengelola komunitasnya dengan biaya swadaya mandiri. Selain kendala dana dan perlengkapan yang minim, buruknya jaringan internet di Papua juga jadi kendala. Khususnya untuk pengelolaan komunitas dunia mayanya.

Jaringan internet di Papua tidak secepat di pulau-pulau lain. Kondisi geografis, manajemen PT Telkom, serta situasi dan gejolak politik disinyalir merupakan faktor-faktor penyebab timbul tenggelamnya jaringan itu. Di Papua rawan terjadi gempa bumi, bergoyang sebentar berpengaruh lama terhadap hilangnya jaringan internet. Pemulihan biasanya sangat lama. Jika presiden datang ke Papua, biasanya juga akan menyisakan hilangnya jaringan internet. Oktober 2016, Presiden Jokowi datang ke Sentani, jaringan internet di Sentani, Abepura, Jayapura dan sekitarnya mulai melambat. Saat itu saya sedang di sana. Disusul kerusakan jaringan fyber bawah laut karena gempa, diikuti bulan Desember tiba. Bulannya rakyat Papua. Praktis pada minggu pertama Januari 2017 jaringan internet baru lancar kembali.

“Maaf, saya tidak bisa buka dokumen yang Mbak kirim. Ini saya sedang numpang buka email di hotel di Jayapura, tapi juga lama sekali. Kalau ada gangguan begini biasanya memang satu bulan lebih baru normal lagi. Kemarin sudah ada pernyataan juga dari Telkom begitu”, kata kawan baik saya, perempuan asli Papua yang saat ini memimpin sebuah organisasi gereja.

Email saya di bulan Desember 2016 untuk seorang kawan saya lainnya, baru dia balas di awal Februari 2017. Katanya baru masuk di Januari akhir. Ia kesal karena hampir dua bulan Jayapura tanpa internet. Ia terlambat mendapatkan informasi-informasi penting dan berguna. Kawan saya lainnya, mengirim pesan pendek ke saya, katanya, “Kami di Jayapura macam sedang hidup di jaman batu”. Whens juga kesal, karena sepanjang dua bulan itu praktis komunitasnya di dunia maya antara ada dan tiada. Aktivitasnya mengelola komunitas Papuans Photo di dunia maya terhenti.

Aktivitas Whens mengelola komunitas Papuans Photo itu, sebenarnya bukanlah kegiatan utama kesehariannya. Sehari-hari Whens bekerja untuk ELSHAM Papua di Jayapura.

Sebagai pembela HAM, di ELSHAM ia lekat dengan kerja pendokumentasian. Insiden dan peristiwa-peristiwa penting di Papua, khususnya Jayapura, tidak ketinggalan ia abadikan dalam kameranya. Potret ketidakadilan dan pelanggaran HAM di Papua menjadi buruannya, untuk ia suarakan melalui foto. Satu lembar foto memang mampu mengurai cerita, kisah, dan sejarah yang panjang. Menjadi bukti sesuatu ada, sesuatu terjadi. Dalam dunia peradilan, ia menjadi sebuah alat bukti.

Tanah dan langit Papua yang sangat menawan selalu membuat kita terkagum. Tapi tidak dengan yang terjadi kepada para pemilik tanah dan langit itu, Orang Asli Papua. Hingga kini, pelanggaran hak asasi manusia terhadap Orang Asli Papua masih terus terjadi dan cukup tinggi intensitasnya dengan beragam tindakan pelanggaran. Peradaban dan eksistensi Orang Asli Papua tergerus atas nama pembangunan infrastruktur dan peningkatan taraf hidup rakyat. Identitas mereka terancam hilang. Ekspansi perkebunan kelapa sawit, tambang, mega proyek pertanian, pembukaan jalan trans, perlahan memusnahkan tanaman sagu, makanan pokok mereka, dan mengikis budaya asli lainnya. Pendekataan keamanan (militersime) yang berlebihan juga masih saja kental di bumi Cenderawasih itu. Akibatnya kekerasan juga penyiksaan oleh aparat terhadap Orang Asli Papua khususnya, begitu sering terjadi. Termasuk pada para aktivisnya, para pembela Hak Asasi Manusia.

Orang-orang muda Papua yang berada di garis depan utamanya dalam menyuarakan hak menentukan nasib sendiri dan Papua merdeka, menjadi sasaran empuk aparat kepolisian juga militer. Mereka ditangkap, ditahan, beberapa juga berbulan-bulan mendekam di dalam bui. ELSAM Jakarta mencatat, pada 2014 telah terjadi 10 peristiwa penangkapan dan penahanan dengan tuduhan separatis dengan korban sebanyak 133 orang di Papua.

Orang-orang muda Papua yang tergabung dalam organisasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menjadi korban langganan aksi represif dan intimidatif aparat. Laporan SKPKC Fransiskan Papua dalam Memoria Passionis Papua, sebuah potret hak asasi manusia selama 2015, pada peringatan 1 Mei 2015 aparat menangkap sekitar 260 aktivis KNPB di berbagai wilayah seperti Manokwari, Fak Fak, Sorong, Merauke, Nabire, dan Jayapura.

Whens juga menjadi incaran intel. Dalam beberapa aksi di seputaran Jayapura, saat ia hendak mendokumentasikan aksi tersebut, ia terus dibuntuti.

Pada 19 Desember 2016, saat orang-orang Papua memperingati hari Trikora (Tiga Komando Rakyat) di beberapa titik di kota Jayapura, Whens ditangkap oleh gabungan polisi dan Dalmas. Whens yang sedang mendokumentasikan aksi di Waena, tiba-tiba ditarik, tercekik, dan tercakar bagian dadanya, lalu digelandang ke Polresta Jayapura. Semua hasil jepretan Whens dihapus oleh polisi. Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) mencatat, di hari yang sama telah terjadi penangkapan disertai tindakan kekerasan terhadap sejumlah aktivis dan demonstran di Merauke, Nabire, Yogyakarta, Gorontalo, Manado, Wamena, dan Jayapura, dengan total korban 520 orang.

“Begitulah...., dan selalu begitu. Paling sering menimpa kawan-kawan KNPB. Kamera diminta paksa, foto dihapus......”

Di Papua militer dan polisi menjadi pihak lawan utama bagi banyak persoalan Orang Asli Papua, termasuk mereka para jurnalis dan fotografer. Apalagi aktivis dan demonstran.

“Padahal saya ingin, suatu saat buat pameran foto potret pelanggaran HAM di Papua”, kata Whens pada suatu hari di bulan Mei 2016 di dalam bajai yang membawa kami melaju di jalanan Tanah Abang Jakarta.

Pada akhir Mei 2016 saya menemani Whens ke kantor TEMPO di Palmerah Tanah Abang. Saya memperkenalkan Whens pada jurnalis senior TEMPO, Yosep Suprayogi dan jurnalis foto TEMPO, Rully Kesuma. Whens ingin menjadi kontributor foto buat TEMPO. Rully Kesuma meminta Whens setidaknya dalam tiga bulan kedepan mengirim hasil jepretannya. Whens setuju. Diskusi singkat dengan Rully dan Yosep membuat Whens bersemangat.

Namun sekembalinya Whens ke Jayapura, ia harus lama tinggal di pedalaman Wamena, kampung halamannya. Mamanya sakit parah. Whens yang sudah tidak punya Bapa dan hanya punya dua adik laki-laki, merawat seorang diri mamanya, hingga pada 30 Oktober 2016 mamanya meninggal, menyusul Bapa Whens.

Ia memasang foto dirinya bersama mamanya pada account facebook pribadinya. Ucapan belansungkawa membanjir. Kebanyakan dari kawan-kawannya di Papuans Photo.

“Apa karya fotomu yang paling istimewa bagimu?”

“Saya rasa foto ini. Orangtua anak ini sudah meninggal. Anak ini sendiri yang merawat adiknya sehari-hari”, jawab Whens sambil menunjukkan foto seorang anak perempuan berseragam sekolah SD berwarna merah putih rapi, berjalan menggendong adiknya. Dua-duanya menatap kosong ke depan dengan tatapan sayu dan kening berkerut.

“Objek yang belum tergapai?”

“Apa ee? Mungkin memfoto sejumlah aparat yang sedang brutal membubarkan paksa demonstran di Papua. Dan foto aparat yang sedang kasih pukul demonstran. Itu sulit. Kalaupun dapat, yaaa...begitulah....”.

Whens bukan demonstran yang orator. Namun ibarat orator, kamera adalah megaphonenya, foto adalah suaranya. Melalui foto ia menyuarakan Papua: keindahan budaya, alam dan langitnya serta ketidakadilan yang terjadi di tanahnya. Dan yang terpenting, ia menggerakkan kaum muda Papua untuk terus berkarya, mencintai tanah air dan langitnya. Komunitas-komunitas orang muda Papua harus terus bertumbuh dan bergerak dalam banyak bidang. Kuat dan komitmen menjaga kekayaan leluhur dengan berkarya menekuni bidang itu hingga zaman demi zaman berganti. Seperti Grup Musik Mambesak dengan syair-syairnya yang menggetarkan itu. Di masa lalu, Mambesak dan syair-syairnya telah menandai gerakan kebudayaan Papua, dan syair-syairnya akan terus mengalun abadi menemani gerakan generasai dan generasi gerakan penerusnya kini.


Foto: Dokumentasi Whens Tebay