Dear : Teman-teman yang baik, para sahabat, dan saudara
Katanya,
kata "opor" itu berasal dari bahasa Belanda. Sedangkan ketupat itu
"Indonesia bangets" ; isinya, yaitu beras, melambangkan keagrarisan Indonesia. Bungkusnya, janur atau daun pohon kelapa, adalah tanaman tepian pantai-laut. Medannya nenek moyang kita yang seorang pelaut.
Setiap Lebaran, Indonesia
dan Belanda menjadi begitu dekat di meja makan orang-orang Indonesia. Lalu menyatu
di dalam perut yang mengunyahnya.
Mina aidzin walfaidzin teman-teman yang baik, mohon maaf lahir dan batin.
Selamat merayakan lebaran bersama orang-orang tercinta, dan selamat berbagi
dengan sesama. Tunjukkan Islam rahmat bagi semesta alam. Yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan kasih sayang, bukan kekerasan.
Sabtu, 30 Agustus 2014
Ibu dan Pemilu
Bogor, 9 April 2014
Dalam pemilu, bapakku selalu golput. Sedangkan ibu selalu memilih. Setiap hari Pemilu tiba, pagi-pagi Bapakku mengeluarkan Vespanya, lalu mengendarainya. Pulang menuju kampung kelahirannya. Padahal di sana ia juga tidak memilih. Mungkin itu hanya pelarian sesaat untuk membuang rasa tidak enak pada tetangga atau pada mertua, karena tidak tampak di tempat pemungutan suara. Zaman itu, orang yang memilih golput belum bisa diterima dengan baik.
Bapakku tidak pernah menyuruh apalagi memaksa ibu dalam menentukan pilihannya. Termasuk pada zaman hanya ada tiga partai. Tapi pada zaman itu, pilihan ibu selalu sama dengan pilihan kakek. Hingga pada suatu pemilu ibu memiliki pilihannya sendiri. Pilihan yang berbeda dengan Bapaknya. Ibu gelisah. Ibu melakukan sholat istikharoh atau sholat untuk meminta petunjuk pada Allah dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan. Ibu ingin memberikan suaranya berdasar keyakinannya sendiri yang terbaik. Dengan harapan baik dan dukungan moral untuk yang ia pilih. Kakek menerima perbedaan itu.
Hingga zaman terus berganti. Dalam satu rumah atau satu keluarga masing-masing memiliki pilihan yang berbeda-beda, atau golput sekalipun bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Saling menerima pandangan dan pilihan yang berbeda.
Menyarankan untuk tidak golput, boleh. Memaksa, tidak boleh. Kata ibu, yang penting bukan golput karena malas keluar rumah, jalan ke TPS. Atau karena tidak mau tahu. Selamat berpesta demokrasi!
No Tittle
Pagi yang sepi. tak ada cericit burung. tak ada lalu lalang belalang dan capung.
aku dan ayah bermandikan matahari di kebun jagung. hamparan jagung ini mulai menua. berbungkus klaras krem tua. jenggot yang kering kecoklatan mencuat keluar.
aku dan ayah tahu, di dalamnya tersembunyi bulir-bulir kuning keemasan. Bulir-bulir harapan yang dulu kami semai.
Ayah, kita tidak akan menuainya sekarang. Kita menunggu ibu pulang. Mari simpan keranjang kita. Mungkin esok pagi kita sudah bisa mandi matahari bersama ibu. Lalu saat petang, keranjang kita telah penuh hasil panenan.
~5/5/14, self record of dream in the train~
Sandro Gatra Menerima Diversity Awward 2014
"Keberagaman adalah kekayaan yang harus dirayakan"-Soekarno-
Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) memberikan Diversity Award 2014 untuk kategori media online kepada Sandro Gatra pada 14 Mei 2014. Sandro adalah jurnalis kompas.com. Gatra, adalah nama belakangnya.Sandro seorang Kristian. Rumah tinggalnya berada di depan masjid. Selama ini ia hidup damai saling berdampingan dalam perbedaan. Namun kawan Sandro di Bekasi, mengalami hal yang sebaliknya. Ia kesulitan untuk beribadah dan memiliki rumah ibadah. Dari situ, Sandro mulai mewartakan masalah keberagaman. Alumnus jurnalistik Iisip Jakarta ini mengajak para jurnalis untuk menghilangkan mindset "sesat", "menyimpang", terhadap sesuatu yang minor.
Orang yang baru pertama kenal Sandro, akan mengira kalau Sandro adalah junalis Majalah Gatra. Karena nama belakangnya itu. Saya teringat, pertama kali bertemu Sandro. Ia menghadiri undangan konferensi pers Institute for Criminal Justice Reform di Taman Ismail Marzuki. Saat itu, Sandro masih reporter mula. Ia hadir meliput siaran pers amicus curiae yang kami sampaikan ke Mahkamah Agung untuk mendukung Pemred Majalah Play Boy Indonesia.
Barangkali Sandro menjadikan jurnalis bukan semata sebagai pekerjaan. Namun lebih dari itu sebagai panggilan jiwa. Karena jurnalis adalah pewarta, bukan pembawa petaka. Selamat kepada Sandro Gatra.
Jakarta Selatan, 14 Mei 2014
Rabu, 27 Agustus 2014
Negara, Banjir, dan Bunga
Jakarta, 9 Maret 2014
Minggu-minggu lalu, setelah musim dingin, hujan, dan banjir
berkurang, kabarnya di negara-negara tetangga berlangsung festifal bunga. Di China,
orang berbondong-bondong pergi ke Bukit Mei Hwa. Mereka bergembira menikmati
indahnya bunga-bunga yang bermekaran di sana. Di New York berlangsung pameran Anggrek.
Sejumlah biodiversitas Anggrek bermekaran. Sebagian Anggrek didatangkan dari
Asia Tenggara. Dari foto kawan saya yang tinggal di Taiwan, Yenni Suyeni, juga
terlihat pohon-pohon bunga di tepi jalan bermekaran. Berwarna kuning semarak. Orang-orang yang melewatinya mengambil foto berlatarbelakang semarak pohon bunga. Mereka tersenyum dengan wajah yang ceria.
Bunga dan festifal bunga seolah dilangsungkan untuk menghibur orang-orang setelah berdiam diri di rumah sepanjang musim hujan dan dingin. Atau mereka yang telah berjibaku dengan banjir.
Bagaimana di Indonesia. Tidak pernah orang-orang dimanjakan oleh Negara. Negara tidak mau tahu. Apalagi memikirkan sampai ke pemulihan hati. Membuat gembira. Penanggulangan banjir saja, masyarakat banyak yang melakukannya secara mandiri dan swadaya. Orang-orang dibiarkan menghibur diri, mencari dan mengadakan penghiburan sendiri. Setelah Jakarta dan kota-kota lain dilanda banjir, malah orang-orang lalu disuguhi banjir kasus korupsi yang satu persatu dikuak oleh KPK.
Sabtu, 12 Juli 2014
Tarra, Pendaki Cilik dari Bekasi
featured slider http://www.beritalingkungan.com
*Adiani Viviana
Barangkali Tarra termasuk anak perempuan yang terlahir beruntung. Lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga berada dan berpendidikan. Namun, kenyamanan yang melingkupinya tak lantas membuatnya tumbuh menjadi anak manja. Sebaliknya, ia perempuan kecil yang mandiri, punya jiwa sosial tinggi, rajin berdoa, dan peduli pada lingkungan hidup.
*Adiani Viviana
Barangkali Tarra termasuk anak perempuan yang terlahir beruntung. Lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga berada dan berpendidikan. Namun, kenyamanan yang melingkupinya tak lantas membuatnya tumbuh menjadi anak manja. Sebaliknya, ia perempuan kecil yang mandiri, punya jiwa sosial tinggi, rajin berdoa, dan peduli pada lingkungan hidup.
Heru Indriyatno,
ayahnya, seorang pekerja keras. Ia pengusaha yang meniti usahanya dari
nol. Perkawinanya dengan Tiasning Agus Setiani melahirkan dua orang anak
perempuan ; Ditta dan Tarra. Kini Tarra duduk di bangku kelas lima
Sekolah Dasar Harapan Mulia, Bekasi, Jawa Barat.
Rumah tinggal keluarga
itu berada di kompleks perumahan elite di Bekasi. Dalam rumah yang luas
itu terdapat satu ruangan yang berfungsi sebagai ruang kerja. Tarra
seringkali duduk berlama-lama di ruang itu. Halaman rumah mereka tidak
cukup luas, namun tanaman-tanaman hias tumbuh subur dan terawat, hingga
ke pojok-pojok ruangan, dan taman dalam ruang.
Sejak tahun 2004, rumah
itu sering kedatangan segerombolan Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas
Hukum Universitas Sebelas Maret, Solo. Mereka adalah sahabat muda Heru
Indriyatno. Heru alumnus dari sana.
Mereka datang untuk
menimba pengalaman, sharing informasi, menyampaikan undangan organisasi
Mapala, sekedar bertamu, atau melobi mengajukan proposal usaha dana
untuk mendukung kegiatan-kegiatan organisasi Mapala yang bernama Gopala
Valentara itu. Ada juga yang datang untuk melamar pekerjaan.
Keanggotaan organisasi
Mapala adalah seumur hidup. Tingkat loyalitas dan kekerabatan sangat
kental dalam organisasi itu. Rumah Heru Indriyatno juga sering menjadi
tempat berkumpul pendaki-pendaki gunung seangkatannya atau yang lebih
tua, sesama anggota Gopala Valentara.
Tarra selalu
menimbrung, membaur, dan cepat menyatu dengan tamu-tamu ayahnya itu.
Heru juga membiarkan puteri kecilnya turut bercengkerama, berdiskusi,
dan mendengarkan pembicaraan mereka. Rasa ingin tahunya besar. Ia kerap
mengajukan pertanyaan-pertanyaan di sela-sela perbincangan.
Dari suasana
kekerabatan antar pendaki itulah, jiwa petualang Tarra mulai muncul.
Hingga kemudian, ia berkali-kali berkesempatan mendaki gunung, memasuki
rimba belantara nusantara. Dan kini, ia sudah mulai ketagihan.
“Subhanallooooh”, kata seru untuk memuji ciptaan Tuhan itu meluncur lembut dari bibir mungilnya, saat ia berhasil mencapai Kawah Ratu, tujuan pendakiannya. Nafasnya masih terdengar terengah-engah sambil kedua telapak tangannya terus ia tangkupkan. Terlihat gemetaran.
Reaksi dari hawa dingin
yang tercipta dari perpaduan ketinggian, hembusan angin, dan hujan.
Tubuhnya dibungkus dua lapis baju. Kaos lengan panjang berwarna hijau
tua dan celana lapangan panjang dengan warna senada dengan kaosnya,
menjadi lapisan pertama. Lapisan keduanya adalah setelan jas hujan
berwarna biru tosca. Rambut hitamnya yang ikal di atas bahu terlihat
basah karena campuran keringat dan air hujan. Dua bola matanya yang
bulat terus memandang ke sekelilingnya, menyapu layar lebar alam yang
eksotis.
Saya melihat ada gurat
lelah di wajah polos Tarra. Sekaligus gurat bahagia. Rasa dan ekspresi
yang sama dengan saya tentunya. Setiap pendaki akan merasakan perasaan
itu tatkala perjuangannya melalui medan pendakian terbayar dengan sajian
alam yang eksotis dan maha indah. Alam seperti tak mau menyimpan
rahasia dengan kita. Kita disambut menjadi bagian alam semesta. Mendesis
bersama dalam jiwa rahim kehidupan ; belantara rimba, rimba belantara.
Tarra mendekap saya
erat-erat. Kami berfoto bersama dengan berbagai gaya dengan
latarbelakang kepulan asap membentuk kabut putih yang mengepul dari
Kawah Ratu, Gunung Salak, Jawa Barat.
Saya terkesima dengan
motivasi dan semangat yang dimiliki Kalyana Tarra Widya Kusuma, nama
panjang Tarra. Saat kami mendaki gunung Salak itu (19-20 November 2011),
ia masih berusia 10 tahun.
Ia memiliki jiwa
kebersamaan dan toleransi yang tinggi pada orang lain. Ia juga peka
terhadap lingkungan sekeliling. Sikap peduli pada lingkungan hidup
rupanya juga telah terpatri dalam diri gadis kecil itu. Dalam tiap
pendakian, ia selalu mengantongi sampah plastik bungkus makanannya.
Bahkan ia suka mengingatkan pendaki dewasa supaya mempacking sampah
plastiknya.
Gunung Salak, bukanlah
gunung pertama yang ia daki. Sebelumnya Tarra pernah mendaki ke gunung
Burangrang, Jawa Barat dengan ketinggian 2064 meter di atas permukaan
laut (mdpl). Lalu pada Maret 2012, Tarra mendaki ke gunung Papandayan
(2665 mdpl). Ia sudah dua kali ke Papandayan.
Di tahun yang sama,
2012 bulan Oktober, Tarra mendaki ke gunung tertinggi di Pulau Jawa,
gunung Semeru. Pada April 2014 ini, Tarra baru saja mendaki ke gunung
Prau dan Dieng Jawa Tengah. Selain mendaki, Tarra juga menyukai olahraga
air, ia pernah melakukan diving di Bunaken. Ia juga pernah mencoba olah
raga arus deras (rafting) di sungai Citatih Jawa Barat.
Saya yakin, tanpa ia
sadari, Tarra, perempuan kecil itu, sudah mengerti dan memahami filosofi
sebuah pendakian dan kebersamaan. Saya merasa takjub, ketika suatu kali
saya mengalami mabuk kendaraan, dan syndrome pra-pengarungan saat akan
rafting di sungai Citatih, lalu dengan bergegas dan ringan tangan, Tarra
memberikan air putih ke saya, menggosok leher belakang saya dengan
minyak kayu putih, dan berkali-kali menanyakan apakah saya sudah merasa
lebih enak? Tidak ada yang menyuruhnya melakukan itu, tidak pula saya
minta.
“Teman-teman sekelasmu,
apa ada yang pernah naik gunung juga?”, tanya saya suatu kali. “Enggak
ada. Cuma aku yang pernah naik gunung”, katanya. “Kan enakan jalan-jalan
ke mall, naik mobil, beli baju, boneka, coklat, es krim. Ngapain ikut
Papah capai-capai begini?”, tanya saya lagi saat mendaki ke gunung
Salak. “Di mall kan enggak ada pohon. Enak naik gunung. Masak mie,
jalan. Kalau nyampai puncak, kan seneeeeng”, katanya.
Melakukan aktivitas
apapun jika kita menyukainya, pasti kita akan bahagia, dan riang
gembira. Tidak merasa capai atau menjadikannya beban. Begitupun naik
gunung. Saya yakin, Tarra sudah menjiwai pendakian, dan menyukainya. Ia
memiliki passion sebagai penjelajah.
Soe Hoek Gie, aktivis
muda Indonesia yang juga pendaki gunung meninggalkan banyak “wasiat”
buat kita, sebelum ia meninggal di gunung Semeru. Salah satu wasiat
penting darinya adalah, ia menuliskan bahwa patriotisme tidak mungkin
tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai
sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah
air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama
rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus
berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat.
“Pah, aku ikut yaa?”,
di tepi Ranu Kumbolo, Tarra merajuk, merayu-rayu ayahnya agar dijinkan
turut melanjutkan pendakian bersama kami hingga Mahameru, puncak Semeru.
Mungkin secara fisik ia mampu. Ia juga bermental baja, tidak mudah
menyerah. Namun mengingat medan menuju Mahameru yang cukup sulit dan
terjal, Heru Indriyatno tidak mengijinkan.
“Kelak kamu seusia aku,
kamu pasti sudah mencapai Mahameru, malah mungkin lebih dari sekali.
Dan pastinya sudah ke gunung mana-mana. Aku baru mulai mendaki saat aku
SMA kelas satu. Kamu udah kemana aja coba…”, saya menghibur Tarra saat
itu. Lalu katanya, “Besok aku mau masuk Gopala Valentara, Pren. Namaku
udah sama kan. Kata Papah, Tara, kan Gopala Valentara”.
Ia tidak mau memanggil
saya “tante” seperti ia memanggil teman-teman muda ayahnya. Ia memanggil
saya “pren (friend)”, begitu juga saya.
Heru Indriyatno dan
istrinya, tentu sangat mengerti resiko-resiko dari pendakian atau olah
raga yang dikenal menantang maut itu. Apalagi bagi puterinya yang masih
kecil. Tapi ia juga mengerti, banyak sekali manfaat dan sisi positif
dari sebuah pendakian.
Alam raya akan
membentuk karakter seorang pendaki. Dalam rimbunnya belantara rimba,
juga terselubung pengetahuan dan pengalaman yang tak ada habisnya.
Pendakian yang
dilakukan dengan baik dan rutin, serta dilakukan sejak usia kanak-kanak
atau remaja, akan menyumbang besar dalam pembentukan karakter seseorang.
Untuk mendaki gunung setidaknya ada tiga tahapan aktivitas yang akan
dilakukan oleh seseorang dan tim-nya ; perencanaan – pelaksanaan – pasca
pendakian.
Dalam tiga aktivitas
tersebut, tiap-tiap pendaki akan terlatih (karena dituntut dan harus)
untuk memiliki sikap disiplin tinggi, rasa kebersamaan, kompak dan
saling menolong, tanggungjawab, teliti dan sabar, peka terhadap
lingkungan sekitar dan alam, tidak gegabah, tegas dan tepat dalam
mengambil keputusan, santun dalam bicara dan berbuat, terampil dan runut
dalam bekerja, tidak egois, memiliki kekuatan mental dan fisik, tidak
mudah menyerah atau putus asa, gigih dalam mencapai tujuan, selalu ingat
pada Tuhan Yang Maha Penyayang. Karena jika tidak memiliki sikap dan
sifat-sifat itu, akan sulit bagi kita untuk bisa bersahabat dengan alam
raya, rimba belantara, gunung. Untuk bisa bertahan hidup, mencapai
tujuan. Sikap dan sifat-sifat tadi sangat penting dalam meminimalisir
risiko, bahaya, dan hambatan di alam raya.
Sikap dan sifat-sifat
itu akan tumbuh dan menjadi karakter seorang pendaki jika pendakian
dilakukan dengan baik, dan rutin. Jika sudah melekat, maka dalam
kehidupan sehari-hari sifat-sifat itu juga tetap melekat menjadi
karakter keseharian. Tak heran, jika Sir Henry Dunant juga meninggalkan
wasiat penting, ia menuliskan bahwa Suatu negara tidak akan pernah
kekurangan pemimpin bila anak mudanya masih suka mendaki gunung,
menyelami lautan, dan menjelajah rimba. Karena sikap dan sifat-sifat
yang terbentuk dari seorang pendaki gunung yang baik, adalah sifat-sifat
atau karakter yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin.
Dalam keseharian, Tarra
juga sudah menunjukkan sifat-sifat kepemimpinanya. Ia juga termasuk
siswi yang berprestasi di sekolahnya. Di dalam rimba, Tarra sebagai
muslimah kecil juga tetap rajin Sholat. Meski kadang harus bertayamum,
karena terbatasnya air di dalam rimba. Pernah juga bimbang harus
menghadap ke mana. Belum ketemu arah kiblat (barat). Memang semestinya
begitu. Karena sholat tidak bergantung pada tempat ataupun orang lain.
Sholat hanya bergantung pada keyakinan kita masing-masing.
Seorang pendaki gunung
yang baik, adalah seorang pecinta alam. Karenanya ia akan menjunjung
tinggi kode etik pecinta alam. Ia akan menyanyangi alam seisinya.
Seperti alam raya mengajarkan kasih sayang tanpa batas pada kita.
Mungkin baik Heru
Indriyatno maupun Tiasning Agus Sulistiani yakin, dan percaya pada Alam
Raya, pada rimba belantara, bahwa ia akan mendidik puteri kecilnya
tumbuh menjadi perempuan yang berkarakter. Oleh karenanya, mereka
membiarkan Tarra mendaki gunung, menjelajah hutan belantara.
Jumat, 20 April 2012
Pohon Tua dan Pak Alley
Pada suatu malam, di Jalan Raya Bogor di sepanjang Cilangkap, terlihat gerombolan orang berjalan kaki menuju arah Bogor, dan ke arah sebaliknya, arah Jakarta. Sementara, di sebuah tempat, yaitu tempat dimana gerombolan orang yang berjalan kaki itu mulai bertolak, terlihat puluhan orang sedang mengerumuni bangkai pohon tua.
Situasi semakin padat dan bising ketika sebuah mobil dari Tim SAR Bogor mendenging-denging melaju dengan kecepatan tinggi mendekati bangkai pohon tua itu.
Seorang anggota Brimob yang berdiri di tengah jalan dengan sepeda motornya berdiri melintang jalan, sangat sibuk menginstruksikan para pengemudi kendaraan dari arah Jakarta menuju Bogor untuk berbalik arah. Tangan kanannya tak henti-hentinya memberi isyarat putar balik, tanpa memberitahu alasan dari instruksinya itu. Dalam keadaan darurat, sebuah instruksi memang harus secara cepat dan sigap diedarkan dan dilaksanakan.
Malam itu, Rabu 20 Maret 2012, saya turut menjadi pejalan kaki bersama gerombolan orang yang berjalan kaki kiloan meter menuju ke arah Bogor. Angkot berwarna biru tua yang saya tumpangi dari PAL dengan tujuan terakhir Cibinong, turut berbalik arah mengikuti instruksi “komandan”.
“Ada apa ne. Ada apa ne?”, diliputi rasa ingin tahu, para penumpang saling bertanya dalam saling ketidaktahuan.
Sopir angkot, berusaha menjadi informan pertama bagi para penumpangnya. Setelah putar balik, sambil terus mengemudikan angkotnya diantara padatnya kendaraan lain, ia terus berusaha bertanya, berteriak, pada sesama sopir angkot.
“Pohon guedhe tumbang melintang jalaaaaaan”, seorang sopir angkot berteriak dari balik kemudinya.
“Huhhh”, para penumpang mengeluh. Sopir angkot mempersilahkan saya beserta penumpang lainnya untuk turun, tanpa membayar ongkos. Ia akan menuju arah Jakarta lagi.
Awalnya saya berjalan kaki bersama 5 orang, namun tiga orang dari 5 tersebut tidak berjalan kaki sampai Cibinong. Karena memang tujuan mereka tidak begitu jauh dari lokasi tumbangnya pohon tua. Tinggalah saya bersama Pak Alley, berduet jalan kaki hingga pasar Cibinong.
Saat melewati pohon tua yang roboh itu, kami sempat mendekatinya. Itu adalah Pohon Asam raksasa yang sudah dimakan usia. Mungkin usianya setua Jalan Raya Bogor itu sendiri, tempat dimana Pohon Asam raksasa tumbuh, berdiam, dan tumbang.
Jalan Raya Bogor, merupakan jalan raya legendaris yang menghubungkan Bogor dengan Jakarta. Jalan Raya ini telah ada sebelum Marsekal Herman Willem Daendels memerintahkan membangun Jalan Raya Pos antara Anyer sampai Panarukan.
“Emang pu’un udah waktunya roboh. Udah tua. Dari jaman Belanda itu udah ada”, cerita Pak Alley pada saya disela-sela kami jalan kaki.
Jaman Belanda yang dimaksud Pak Alley, tentu adalah jaman Daendels tersebut. Menurut beberapa pengamat budaya, dan pelaku sejarah, salah satu penanda atau peninggalan di sepanjang jalan Raya Bogor pada masa Daendeles tersebut, memang hanya pohon-pohon Asam tua yang berdiri berderet di tepi jalan itu.
Kulit kayu pohon-pohon itu terlihat sangat hitam legam, dan seperti mau terkelupas. Namun begitu, daunnya selalu bersemi mengikuti musim, sehingga sangat hijau dan rindang, cocok sebagai pohon peneduh jalan. Di pagi hari, mereka terlihat sangat cerah dan berwibawa. Pada siang harinya, pohon-pohon itu terlihat berdiri anggun bersahaja. Namun, dimalam hari, terlebih jika turun hujan, pohon-pohon itu menjadi terlihat seperti tidak bersahabat dengan para pengguna Jalan Raya Bogor.
Pohon-pohon tua yang berhasil survival dan terus survive itu memiliki peranan yang sangat berarti bagi kebersihan udara di sepanjang Jalan Raya Bogor tersebut. Setiap menit terdapat kendaraan bermotor yang melintasi jalan tersebut. Ratusan sepeda motor, angkutan umum, truk, bus, kendaraan pribadi, tronton, kountainer melintasi Jalan Raya Bogor. Seiring dengan laju ratusan kendaraan tersebut, tercipta berton-ton zat karbondioksida yang tidak baik untuk kesehatan pernafasan, dan kulit manusia.
Jalan Raya Bogor, juga dikenal sebagai jalur pabrik. Di sepanjang jalan itu, terdapat puluhan pabrik skala besar yang beroperasi tiap hari. Mulai dari pabrik mesin air, makanan, tekstil, hingga minuman. Proses produksi pabrik tentu juga menghasilkan zat karbondioksida, yang berkontribusi besar pada pencemaran udara.
Kesetiaan pohon-pohon Asam tua pada Jalan Raya Bogor tak bersyarat. Justru ia menjadi penetralisir zat beracun karbondioksida tersebut. Pada saat pepohonan melakukan fotosintesa untuk menghasilkan zat oksigen, pada saat yang bersamaan ia menghisap zat karbondioksida.
Nafas Pak Alley mulai terdengar tak beraturan. Keringat mulai menetes dari keningnya. Namun, di sepanjang jalan, ia terus saja bercerita.
Rambutnya memang telah memutih semua. Namun giginya masih rapi. Jika melihat jalannya yang masih tegap dengan ritme yang cepat pula, siapa menyangka ia telah berusia 71 tahun. Pak Alley, mampu bertahan karena semangat hidup yang tinggi, terus beraktivitas dan bermanfaat bagi sesama.
Begitu juga Pepohonan. Pohon, mampu bertahan hidup lebih dari 3 tahun. Lebih lama satu tahun, dibanding semak-semak. Bahkan, sebatang Pohon Cemara di Jepang, ditengarai telah memiliki usia selama 7200 tahun. Tiap bagian dari pohon cemara memiliki manfaat, mulai dari kayu, getah, daun, biji, hingga rantingnya.
Saya teringat pada pohon yang berbentu huruf V, pohon tua yang tumbuh di ketinggian sekian mdpl (meter di atas permukaan laut) mendekati Hargodumillah, puncak gunung Lawu. Sahabat-sahabat saya, Monica Christihani, Choiriyah, Yulius Sigit, dan Wuwuh Setiono, memberinya nama pohon Victory. Namun, saya memberinya nama pohon Viviana. Mereka berempat lebih dulu mengenal pohon V, dibanding saya. Terakhir saya mengunjungi Lawu, di pertengahan tahun 2004, pohon V masih hidup. Tegak berdiri.
Melewati depan Pabrik Roti dan Café Maxim, saya mulai memelankan ritme jalan kaki saya. Tapi tidak dengan Pak Alley, ia terus melaju.
“Saya mah tiap pagi jalan-jalan. Jalan kaki ndak pakai sandal, mengikuti jalur rel mati”, seru pak Alley menceritakan salah satu aktivitas hariannya.
Ia tinggal bersama anak perempuannya. Anak tunggal. Istri pak Alley telah meninggal. Suami anak perempuannya juga telah meninggal. Dulu, pak Alley adalah sopir angkot, jalur Cibinong-Pasar Rebo. Kini mereka hidup dari uang kiriman Cucu pak Alley yang bekerja di Bandung.
“Nah, sampai juga kita Neng. Neng mah, lurus kan ya? Saya mau mampir pasar dulu, beli kue pukis buat cicit. Demen banget ama kue pukis yang di pengkolan situ”, sambil menyeka keringatnya dengan sapu tangan, Pak Alley memberi aba-aba perpisahan.
Saya menyambut aba-aba itu dengan mengucapkan terima kasih dan menyodorkan tangan, menyebutkan nama saya.
“Saya Pak Alley. Ndak tahu dah, dari lahir namanya segitu doang. Hati-hati ya Neng. Ati-ati masih naik satu angkot lagi”, Pak Alley menyebutkan namanya, diikuti nasehat buat saya, sambil melambaikan tangan, berbelok menuju pengkolan tempat penjual Pukis kesukaan cicitnya.
Seperti manusia yang berregenerasi, pohon-pohon Asam tua di sepanjang jalan Raya Bogor juga perlu regenerasi. Tumbang satu tumbuh seribu.
Pada suatu malam, di Jalan Raya Bogor di sepanjang Cilangkap, terlihat gerombolan orang berjalan kaki menuju arah Bogor, dan ke arah sebaliknya, arah Jakarta. Sementara, di sebuah tempat, yaitu tempat dimana gerombolan orang yang berjalan kaki itu mulai bertolak, terlihat puluhan orang sedang mengerumuni bangkai pohon tua.
Situasi semakin padat dan bising ketika sebuah mobil dari Tim SAR Bogor mendenging-denging melaju dengan kecepatan tinggi mendekati bangkai pohon tua itu.
Seorang anggota Brimob yang berdiri di tengah jalan dengan sepeda motornya berdiri melintang jalan, sangat sibuk menginstruksikan para pengemudi kendaraan dari arah Jakarta menuju Bogor untuk berbalik arah. Tangan kanannya tak henti-hentinya memberi isyarat putar balik, tanpa memberitahu alasan dari instruksinya itu. Dalam keadaan darurat, sebuah instruksi memang harus secara cepat dan sigap diedarkan dan dilaksanakan.
Malam itu, Rabu 20 Maret 2012, saya turut menjadi pejalan kaki bersama gerombolan orang yang berjalan kaki kiloan meter menuju ke arah Bogor. Angkot berwarna biru tua yang saya tumpangi dari PAL dengan tujuan terakhir Cibinong, turut berbalik arah mengikuti instruksi “komandan”.
“Ada apa ne. Ada apa ne?”, diliputi rasa ingin tahu, para penumpang saling bertanya dalam saling ketidaktahuan.
Sopir angkot, berusaha menjadi informan pertama bagi para penumpangnya. Setelah putar balik, sambil terus mengemudikan angkotnya diantara padatnya kendaraan lain, ia terus berusaha bertanya, berteriak, pada sesama sopir angkot.
“Pohon guedhe tumbang melintang jalaaaaaan”, seorang sopir angkot berteriak dari balik kemudinya.
“Huhhh”, para penumpang mengeluh. Sopir angkot mempersilahkan saya beserta penumpang lainnya untuk turun, tanpa membayar ongkos. Ia akan menuju arah Jakarta lagi.
Awalnya saya berjalan kaki bersama 5 orang, namun tiga orang dari 5 tersebut tidak berjalan kaki sampai Cibinong. Karena memang tujuan mereka tidak begitu jauh dari lokasi tumbangnya pohon tua. Tinggalah saya bersama Pak Alley, berduet jalan kaki hingga pasar Cibinong.
Saat melewati pohon tua yang roboh itu, kami sempat mendekatinya. Itu adalah Pohon Asam raksasa yang sudah dimakan usia. Mungkin usianya setua Jalan Raya Bogor itu sendiri, tempat dimana Pohon Asam raksasa tumbuh, berdiam, dan tumbang.
Jalan Raya Bogor, merupakan jalan raya legendaris yang menghubungkan Bogor dengan Jakarta. Jalan Raya ini telah ada sebelum Marsekal Herman Willem Daendels memerintahkan membangun Jalan Raya Pos antara Anyer sampai Panarukan.
“Emang pu’un udah waktunya roboh. Udah tua. Dari jaman Belanda itu udah ada”, cerita Pak Alley pada saya disela-sela kami jalan kaki.
Jaman Belanda yang dimaksud Pak Alley, tentu adalah jaman Daendels tersebut. Menurut beberapa pengamat budaya, dan pelaku sejarah, salah satu penanda atau peninggalan di sepanjang jalan Raya Bogor pada masa Daendeles tersebut, memang hanya pohon-pohon Asam tua yang berdiri berderet di tepi jalan itu.
Kulit kayu pohon-pohon itu terlihat sangat hitam legam, dan seperti mau terkelupas. Namun begitu, daunnya selalu bersemi mengikuti musim, sehingga sangat hijau dan rindang, cocok sebagai pohon peneduh jalan. Di pagi hari, mereka terlihat sangat cerah dan berwibawa. Pada siang harinya, pohon-pohon itu terlihat berdiri anggun bersahaja. Namun, dimalam hari, terlebih jika turun hujan, pohon-pohon itu menjadi terlihat seperti tidak bersahabat dengan para pengguna Jalan Raya Bogor.
Pohon-pohon tua yang berhasil survival dan terus survive itu memiliki peranan yang sangat berarti bagi kebersihan udara di sepanjang Jalan Raya Bogor tersebut. Setiap menit terdapat kendaraan bermotor yang melintasi jalan tersebut. Ratusan sepeda motor, angkutan umum, truk, bus, kendaraan pribadi, tronton, kountainer melintasi Jalan Raya Bogor. Seiring dengan laju ratusan kendaraan tersebut, tercipta berton-ton zat karbondioksida yang tidak baik untuk kesehatan pernafasan, dan kulit manusia.
Jalan Raya Bogor, juga dikenal sebagai jalur pabrik. Di sepanjang jalan itu, terdapat puluhan pabrik skala besar yang beroperasi tiap hari. Mulai dari pabrik mesin air, makanan, tekstil, hingga minuman. Proses produksi pabrik tentu juga menghasilkan zat karbondioksida, yang berkontribusi besar pada pencemaran udara.
Kesetiaan pohon-pohon Asam tua pada Jalan Raya Bogor tak bersyarat. Justru ia menjadi penetralisir zat beracun karbondioksida tersebut. Pada saat pepohonan melakukan fotosintesa untuk menghasilkan zat oksigen, pada saat yang bersamaan ia menghisap zat karbondioksida.
Nafas Pak Alley mulai terdengar tak beraturan. Keringat mulai menetes dari keningnya. Namun, di sepanjang jalan, ia terus saja bercerita.
Rambutnya memang telah memutih semua. Namun giginya masih rapi. Jika melihat jalannya yang masih tegap dengan ritme yang cepat pula, siapa menyangka ia telah berusia 71 tahun. Pak Alley, mampu bertahan karena semangat hidup yang tinggi, terus beraktivitas dan bermanfaat bagi sesama.
Begitu juga Pepohonan. Pohon, mampu bertahan hidup lebih dari 3 tahun. Lebih lama satu tahun, dibanding semak-semak. Bahkan, sebatang Pohon Cemara di Jepang, ditengarai telah memiliki usia selama 7200 tahun. Tiap bagian dari pohon cemara memiliki manfaat, mulai dari kayu, getah, daun, biji, hingga rantingnya.
Saya teringat pada pohon yang berbentu huruf V, pohon tua yang tumbuh di ketinggian sekian mdpl (meter di atas permukaan laut) mendekati Hargodumillah, puncak gunung Lawu. Sahabat-sahabat saya, Monica Christihani, Choiriyah, Yulius Sigit, dan Wuwuh Setiono, memberinya nama pohon Victory. Namun, saya memberinya nama pohon Viviana. Mereka berempat lebih dulu mengenal pohon V, dibanding saya. Terakhir saya mengunjungi Lawu, di pertengahan tahun 2004, pohon V masih hidup. Tegak berdiri.
Melewati depan Pabrik Roti dan Café Maxim, saya mulai memelankan ritme jalan kaki saya. Tapi tidak dengan Pak Alley, ia terus melaju.
“Saya mah tiap pagi jalan-jalan. Jalan kaki ndak pakai sandal, mengikuti jalur rel mati”, seru pak Alley menceritakan salah satu aktivitas hariannya.
Ia tinggal bersama anak perempuannya. Anak tunggal. Istri pak Alley telah meninggal. Suami anak perempuannya juga telah meninggal. Dulu, pak Alley adalah sopir angkot, jalur Cibinong-Pasar Rebo. Kini mereka hidup dari uang kiriman Cucu pak Alley yang bekerja di Bandung.
“Nah, sampai juga kita Neng. Neng mah, lurus kan ya? Saya mau mampir pasar dulu, beli kue pukis buat cicit. Demen banget ama kue pukis yang di pengkolan situ”, sambil menyeka keringatnya dengan sapu tangan, Pak Alley memberi aba-aba perpisahan.
Saya menyambut aba-aba itu dengan mengucapkan terima kasih dan menyodorkan tangan, menyebutkan nama saya.
“Saya Pak Alley. Ndak tahu dah, dari lahir namanya segitu doang. Hati-hati ya Neng. Ati-ati masih naik satu angkot lagi”, Pak Alley menyebutkan namanya, diikuti nasehat buat saya, sambil melambaikan tangan, berbelok menuju pengkolan tempat penjual Pukis kesukaan cicitnya.
Seperti manusia yang berregenerasi, pohon-pohon Asam tua di sepanjang jalan Raya Bogor juga perlu regenerasi. Tumbang satu tumbuh seribu.
Langganan:
Postingan (Atom)